Dedy Susanto dan Revina: Akhir yang Kelabu

Tulisanku kali ini memuat informasi dan pandangan pribadi mengenai Dedy Susanto dan mostly, Revina Violetta Tanamal.

Jika orang-orang mengenal Revina sebagai mantan salah satu rapper di Indonesia, maka tidak denganku. Aku baru tahu-menahu siapa itu Revina semenjak ramai di twitter, terpampang foto pelaku-pelaku pelecehan seksual yang mana semuanya menggunakan kacamata dan salah satu yang ada di foto itu adalah Dedy Susanto. Setelah kutelusuri lebih lanjut, rupanya Dedy Susanto ada di antara foto tersebut karena banyak pengakuan muncul dari orang-orang yang merasa menjadi korban atau penyintas dari tindakan Dedy Susanto yang sampai sekarang masih abu-abu, apakah benar ia melakukan hal tersebut atau tidak.

Dedy Susanto adalah seorang motivator dengan gelar yang berbeda-beda dan tidak linear dalam bidang psikologi[1], gelar-gelar yang dimiliki mengundang perdebatan karena ia beberapa kali membuat pernyataan kontroversial seputar kejiwaan[2], dimana dia tidak memiliki kapasitas untuk membuat pernyataan tersebut karena bukan seorang psikolog, terutama bidang psikologi klinis. Revina, seorang selebgram dengan gelar Sarjana Hukum mencurigai Dedy Susanto dan menyelidiki latar belakangnya kemudian mendapatkan fakta bahwa ia tidak terdaftar dalam HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) dan bukan psikolog yang tersertifikasi. Dedy Susanto hanya memiliki sertifikat hypnotheraphy yang berasal dari Yayasan Khalifah Indomedia Pratama[3].

Sembari berusaha mengulik latar belakang Dedy Susanto, rupanya Revina juga mendapatkan banyak pesan dari orang-orang yang menyatakan bahwa Dedy Susanto melakukan pelecehan seksual kepada mereka yang pernah menjadi pasiennya. Banyak bukti chat berupa pengakuan (kekerasan seksual fisik) ataupun chat bersama Dedy Susanto langsung (kekerasan seksual verbal)[4]. Revina pun ingin memproses hal ini dengan melaporkannya kepada pihak berwajib, namun polisi menolak karena mereka mengatakan bahwa korban harus ikut melapor. Revina tetap bersikeras bahwa ini adalah delik biasa[5] bukan delik aduan. Perlahan, korban gugur karena berbagai alasan seperti: takut akan ancaman Dedy Susanto, pandemi Covid-19, atau merasa prosedur ini terlalu sulit dan Revina dijerat oleh Dedy Susanto atas Pasal 27 ayat 3 UU ITE[6].

Menurut pengakuan Revina, ia juga mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Memangnya dirugikan secara langsung?” “Memangnya kenal Dedy?” dan sebagainya, padahal salah satu aspek rasa aman dapat diberikan tanpa melanggar ketentuan untuk memberikan keterangan tanpa tekanan serta pertanyaan yang menjerat[7]. Bagiku yang mengikuti kasus ini dari awal muncul (Februari 2020) hingga terakhir kali Revina update di sosial media pribadinya, kasus ini adalah bukti nyata bahwa masih banyak polisi yang bahkan tidak paham akan sebuah proses hukum dan begitu mudahnya UU ITE menjadi senjata yang digunakan untuk menakut-nakuti korban. Sampai pada saat ini, laporan terhadap Dedy Susanto terpaksa tidak dapat dilanjutkan karena polisi menolak serta korban yang satu per satu gugur. Sedangkan klaim Dedy Susanto atas fitnah dan pencemaran nama baik, tinggal tahap terakhir yaitu gelar perkara.

Saking menariknya kasus ini untukku, sampai kubahas di ujian tengah semester hukum acara pidana untuk analisis perlindungan saksi dan korban (hence, the footnotes yang sebenarnya tidak lengkap karena ini hanya mengambil sebagian dari keseluruhan jawaban ujianku). Tetapi di sini aku akan menambahkan pandanganku tentang Revina. Mungkin banyak yang tidak begitu suka dengan Revina, terkenal dengan “suka cari sensasi” karena sebenarnya beberapa kali dia juga membuat pernyataan yang tidak disetujui oleh banyak orang. Aku pun pernah tidak setuju dengan pernyataannya, khususnya tentang “mental lemah” (waktu itu postingan ini ada di twitter, berkaitan juga dengan body positivity dan kesehatan mental) tapi bagiku, Revina hanyalah orang biasa yang juga bebas untuk beropini. Hanya kebetulan saja dia juga seorang selebgram, oleh sebab itu banyak pernyataannya sering disorot media atau mendadak ramai. Misalnya yang baru-baru ini, tentang opininya tidak suka dengan bahasa Jawa-nya Surabaya.

Terpaut dari apapun yang Revina lakukan atau bagaimana aku memiliki perbedaan pendapat dengan dirinya, yang jelas ia berhasil menarik simpatiku dan mendapat respect-ku akan kasus Dedy Susanto ini. Bagaimana ia rela untuk speak up dan menjalani prosedur selama kurang lebih 10 (sepuluh) jam bersama kuasa hukumnya, menyebarkan awareness untuk tidak sembarangan percaya dengan orang yang membuat statement di luar kapasitasnya, dan bagaimana ia akan tetap stand up meski sudah pernah mengalami kejadian pahit dengan akhir kelabu seperti ini.

Terima kasih.

[1] S1 untuk Sarjana Ekonomi (S.E) dari Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis, Sarjana Psikologi (S.Psi) dari Universitas Persada Indonesia Yai. S2 untuk Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen Ppm. S3 untuk Doktor Psikologi (Dr) dari Universitas Persada Indonesia Yai. Dikutip dari detiknews: Profil Dedy Susanto: Klaim Pakar Pemulihan Jiwa hingga Motivator Kekayaan, 24 Februari 2020.

[2] Beberapa kali melakukan diagnosis, menyatakan bahwa LGBT adalah luka masa janin atau penyakit, bipolar dapat disembuhkan, dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition). 

[3] Perusahaan tabloid di Indonesia yang mulai dari tahun 2008 berubah bentuk dari tabloid menjadi majalah

[4] Semua bukti chat masih ada di highlight Instagram Story dengan akun @revinavt

[5] Dalam delik biasa, perkara dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban).

[6] Merujuk pada dugaan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik atau manipulasi data elektronik.

[7] Suyoto. (2017). Peranan Polri, hlm. 11

Penulis: T. Bianca Swasono/lilithuriel

Sulit Makan

Trigger warning: Pada tulisan kali ini ada bahasan mengenai melukai diri sendiri/self-harm.

Kenapa bisa ada orang yang suka makan?!

Sesuatu hal yang tidak akan bisa ku-relate, karena aku orang yang sulit makan. Tetapi aku juga tidak mengerti mengapa aku sulit makan, atau mungkin lebih tepatnya cepat kenyang? Atau tidak membutuhkan porsi yang banyak? Tapi rasa-rasanya badanku tetap proporsional, kok. Tidak terlalu kurus, juga tidak gendut. Atau hampir kurus … mungkin. Saking sedikitnya aku makan, sering dikira cacingan (padahal tidak!).

Tapi mungkin memang aku yang aneh? Maksudku, terkadang meski lapar pun aku tidak ingin makan. Aku lebih memilih tidur untuk membenamkan rasa lapar itu. Pernah juga perut sudah keroncongan, setelah makan satu suap tiba-tiba merasa kenyang dan tidak sanggup melanjutkan. Atau maaf, terkadang saat makan sering kali merasa seperti ingin muntah.

Gambarku, 30 Oktober 2020 pukul 0:37. Nge-doodle cepet setelah sekian lama.
Abis ngerjain UTS Hukum Acara Pidana jadi ada kesempatan buat melepas penat walau hanya sebentar.

Sulit dideskripsikan. Rasanya makan itu bagai penderitaan. Aku tidak selalu seperti ini kok, hanya sebagian besar waktu saja. Mungkin sebulan-dua bulan sekali ada saatnya tiba-tiba aku punya nafsu makan yang baik dalam beberapa hari. 😦

Mungkin jika ingin ditelaah, aku akan menduga-duga mulai dari aku sulit makan karena memasang behel. Rasanya sejak itu pola makanku berubah. Tetapi, aku pikir itu hanya di permukaan. Alasan lain adalah dulu aku suka mencari cara-cara untuk menyiksa diriku sendiri. Ini berkaitan dengan masalah mental yang kumiliki. Dari dulu aku struggle, dari SD mungkin? Aku lose track kapan pertama kali ingin mati. Yang pasti, aku akan mencari cara untuk menyakiti diriku. Banyak hal sudah kulakukan, mulai dari menonjok tembok hingga kulitku berdarah, menusuk kakiku pakai jangka, menusuk-nusuk badanku menggunakan gunting, mencakar dan menggigit diri sendiri, dan lain-lain.

Aku sudah lama berhenti self-harm. Aku lupa kapan terakhir kali, yang jelas, tidak perlu khawatir karena keadaanku sudah membaik dibanding waktu-waktu yang lalu. Hanya saja, mungkin tinggal masalah makan ini?! Yang mungkin juga karena IBS … dan kalau menelusuri asal muasal IBS-ku, balik lagi ke pikiran; mental. Pengen nulis tentang IBS sih, tapi kemarin-kemarin udah di twitter jadi bosen kalau mau nulis tentang IBS lagi.

Huft, sekiranya kalian semua tidak ada yang bernasib sepertiku, kalaupun iya, pastikan untuk mengontrol pikiran kalian dan reach out to people, ok??? Gak ada salahnya membicarakan apa yang mengganggu pikiran kalian ke orang yang benar-benar peduli. Oh, mungkin kalau ada yang mau mengirimkanku pesan terkait ini juga boleh. Sekian untuk saat ini.

Jumat, 30 Oktober 2020 [0:52 AM]

Perasaan saat ini: entah kenapa merasa sedikit lebih bersemangat dibanding biasanya (umumnya 24/7 sedih).

Waktu untuk Sendiri

Periode “pasca-hubungan” selalu menjadi saat yang tepat untuk refleksi. Entah itu hubungan dari pertemanan atau persahabatan yang berakhir, atau hubungan bersama significant other. Sebenarnya kalau berbicara refleksi, aku pribadi orang yang hampir setiap hari merenung sehingga agak kurang tepat bila anggapannya refleksi hanya ketika hubungannya telah kandas. Aku banyak berpikir. Rasa-rasanya sampai berpikir itu seolah candu. Namun mungkin ini memang saat yang tepat untuk sementara istirahat dan lebih banyak berkaca.

Umumnya, “pasca-hubungan” meninggalkan luka bagiku. Meski begitu, luka tersebut sembuh seiring waktu lantas aku masih percaya bahwa aku akan mendapatkan yang lebih baik seperti yang diyakini orang-orang, walau aku tidak membutuhkan ‘yang lebih baik’.

Beberapa barang yang pernah tertinggal di tempat sementaraku. Waktu itu kau melakukan kebiasaanmu untuk pergi dan aku menggambar untuk tetap tidak berpikir berlebihan (akhir tahun 2019).

Sekarang, tentu beberapa yang tahu pun men-sugesti hal yang sama. “Kamu pantas dapat yang lebih baik!” Oh, iya kah? Sekarang aku meragukan hal itu. Apa iya, aku bahkan pantas mendapatkan siapapun? Distraksi. Distraksi, dan distraksi. Yang kulakukan sekarang hanya mendistraksi pikiran-pikiran yang seperti ini. Tapi aku harus menghadapinya. Aku harus menyadari dan menerima bahwa aku memang memiliki pikiran seperti ini. Mungkin, mungkin ini bagian dari proses sembuhnya dari luka yang timbul. Ya, kan? Tapi oh, apakah aku salah? Apa mungkin aku kurang berusaha? Walau menurut temanku, itu bukan perihal usaha atau bukan.

Baiklah, mari mengambil waktu untuk sendiri. Mari jalani dulu hidup sesuai bagaimana yang ku-inginkan. Fokus pada mimpi, tujuan, tulisan, dan pikiran. Fokus pada apa saja yang bisa kubuat dengan kedua tangan ini. Juga pada realitas yang sedang kuhadapi. Mari mengelaborasi kembali semua yang terjadi, apa yang sebaiknya kupikirkan ulang, batasan apa yang seharusnya aku buat sedari awal, dan mari kembali gelut dengan pikiran sendiri seperti yang sudah-sudah.

Jumat, 23 Oktober 2020 [3:09 AM]

Sebuah akhir tanpa eksplanasi.

Jangan Menangis

Oh, tentu kita tidak sampai hati melihat orang yang kita pedulikan menangis. “Jangan menangis!” Adalah refleks wajar oleh mulut, ajakan berhenti untuk sedih, tapi mungkin beberapa orang pun juga ada yang sudah benci atau tidak nyaman saat melihat air mata atau mendengar tangisan.

Aku suka mengeluarkan kalimat tersebut, tetapi selalu tanpa konteks yang berkorelasi. Jika sesuai konteks, sedang berduka, atau sedih, ah, biarkan saja ia menangis! Biarkan ia habiskan air matanya, biarkan ia nikmati kesedihannya!

Sesungguhnya, setiap dari kita memproses emosi kita dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang butuh waktu lama, ada yang butuh waktu sebentar, ada yang bahkan tidak tahu-menahu bagaimana caranya. Aku rasa, ajakan untuk, “Jangan menangis!” agak terdengar egois. Menangis tidak buruk, kok. Menangis bukan artinya kamu lemah. Menangis bukan berarti kamu akan sedih selamanya. Temani saja ia menangis selagi bisa. Atau, kalau ia butuh waktu sendiri, oke juga kok untuk memberikannya. Yang kurang tepat adalah, ketika memutuskan untuk berlarut dalam kesedihan dan tangisan itu.

Aku hanya berpikir, hidup itu dinamis. Tidak selamanya kamu dalam situasi tertentu. Sangat mudah untuk berubah. Kita hidup dalam masyarakat dan kebudayaan secara luas dimana menangis dikaitkan dengan hal lemah, emosional, atau bahkan buruk. Menangis pun sering ditahan, padahal segala sesuatu yang kekurangan itu tidak baik dan yang berlebihan pun tidak baik juga.

Inti tulisanku kali ini adalah, pandangan untuk menormalisasi menangis ketika memang sedang sedih dengan tidak membalas, “Jangan menangis!” Menangis itu baik. Menangis adalah salah satu cara untuk menyalurkan emosi.

Kamis, 22 Oktober 2020 – 2:33 AM.

Sepertinya di tulisan-tulisan berikutnya akan menyertakan gambarku sendiri (yang lebih relevan tentunya). Ini hanya mencoba menaruh doodle lama.

SEDIKIT TENTANG HIDUP, ANAK, DAN MENIKAH

Dari dulu aku tidak memiliki keinginan untuk menikah, meski begitu aku tetap berusaha untuk ‘berpikiran terbuka’, dalam arti—mungkin saja nanti aku bertemu pasangan yang cocok dan akhirnya kami menikah. Keluargaku juga selalu mencibir, “Ah kamu masih umur segini, masih kecil, nanti juga berubah pikiran.” Hanya saja, lama kelamaan sepertinya keinginan itu kian membesar. Aku semakin melihat diriku sebagai seseorang yang complicated dan problematik dan tidak semua orang bisa mengerti itu, atau, tidak semua orang memiliki waktu yang banyak dan sabar untuk figure out diriku.

Mungkin kalian (yang membaca ini) bertanya-tanya, mengapa aku tidak ingin menikah. Selain daripada diriku yang problematik, aku tidak ingin menikah hanya karena tradisi atau dipaksa keluarga dan tekanan lingkungan sekitar. Kalaupun nanti misalnya aku memutuskan untuk menikah, aku ingin itu dengan orang yang benar-benar aku mau terlepas dari latar belakang budaya yang dia miliki. Ya, termasuk agama (tapi bukan berarti aku akan pindah agama juga, maksudku, dari dulu aku selalu berpikir apa salahnya dengan tetap stay di agama masing-masing? Pada dasarnya pun juga urusan hubungan dengan Tuhan itu punya masing-masing).

Aku sempat memiliki mimpi untuk menjadi single-parent. Benar, selain tidak menikah, aku ingin mengadopsi anak dan aku bahkan sudah mencari tahu bagaimana cara-caranya. Tetapi, akhir-akhir ini aku benar-benar memikirkan hal itu. Perihal punya anak, itu sama sekali bukan main-main. Meski aku telah membaca dan mempelajari berbagai macam buku parenting, situasi terburuk bisa saja muncul bahkan secara tiba-tiba. Dan salah langkah sedikit, kita tidak akan tahu dampaknya. Anak juga bukan investasi, ketika memang aku nanti punya anak (adopsi), aku ingin dia bebas menentukan apa yang dia mau. Yang penting aku pastikan dia punya basic knowledge akan nilai, norma, dan human rights.

Mengapa aku ingin adopsi dan bukan ‘bikin sendiri’? Salah satu alasan yang terus-terusan menghantuiku adalah genetics yang akan diturunkan, terutama bila aku memiliki anak perempuan. Aku memiliki tendensi untuk menjadi depresif dan ingin mengakhiri hidupku. Aku sangat teramat tidak ingin meneruskan penderitaan ini kepada anakku jika aku punya anak nanti. Aku tidak ingin anakku memiliki cara berpikir, sifat, dan tendensi yang mirip denganku. Bagaimana bila aku gagal memberikan support? Membayangkannya saja tidak sanggup.

Aku akan selalu teringat kalimat Soe Hok Gie:

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Tapi yah, karena sudah jelas aku tidak bisa yang pertama maka mungkin aku akan menjadi yang kedua (hopefully) atau ya, yang ketiga juga tidak apa-apa palingan hanya belajar menikmati penderitaan yang diberikan hidup serta menghadapi persoalan orang-orang di sekitar. Aku rasa segini dulu untuk hari ini. Sampai bertemu di tulisan-tulisan berikutnya.

Minggu malam, 18 Oktober 2020

Kembali Lagi

Untuk permulaan, mari menulis. Menulis walau tidak tahu ingin mengeluarkan kata apa. Biarkan ia mengalir apa adanya, toh, sudah lama tidak mengenal berbagai diksi yang ada. Benar, aku sudah lama tidak melakukan hal-hal yang aku inginkan atau hal-hal yang kusukai. Aku hanya berusaha, berusaha untuk tetap “hidup” dan “bertahan”. Mengapa sulit sekali? Padahal banyak mata memandang dan menilaiku sebagai orang yang “tak berkekurangan”. Aku tidak akan memahami berbagai kesulitan mereka karena aku bukan ada di sepatu yang tepat untuk mengatakan berbagai hal pada mereka. Dan lagi-lagi, seperti itu ‘kodrat’nya. Aku harus berusaha, berkali-kali lipat, dibanding yang lain, bahkan hanya untuk hal se-sederhana berpikir.

Tengah malam tiba, dengan perasaan sedih seperti biasa, sudah lama aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Terutama, untuk benar-benar mengeluarkan apa yang dalam benakku. Padahal, aku menulis agar tetap keep track akan kewarasan yang kumiliki. Semoga sampai akhir hayatku, aku tetap waras haha.

Kalau saja aku punya banyak waktu untuk berpikir dan menulis, aku akan menulis tentang banyak hal. Tentang kalimat Soe Hok Gie yang berkesan, tentang review film pendek ataupun movie dengan genre romantic comedy yang baru saja aku tonton, atau juga tentang orang yang benar-benar kusayangi namun sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Haha, mungkin besok. Aku tidak ingin menulis seolah menjadi keterpaksaan, aku ingin melakukannya karena aku suka dan ingin. Sama seperti menggambar atau melukis dan mungkin lainnya yang luput dari kesadaranku.

Aku rasa, segini dulu untuk hari ini. Sampai bertemu di lain waktu.

16 Oktober 2020, 1:59 AM.

PELECEHAN SEKSUAL: SIAPA YANG SALAH?

“Tapi waktu itu mbak pakai baju apa?” “Mungkin pakaianmu terlalu terbuka atau ketat!” “Salahmu nggak coba melawan,” Betapa seringnya perkataan semacam ini terdengar di antara kita saat seseorang—dalam konteks ini, perempuan— bercerita mengenai pelecehan seksual yang dialaminya. Sehingga kemudian, menyalahkan perempuan kerap kali menjadi suatu hal yang dinormalisasi. Mengapa tampaknya begitu mudah untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah, ketika sebenarnya alasan-alasan dari terjadinya pelecehan seksual itu sendiri tidak diketahui?

skipsterling

Ilustrasi oleh Skip Sterling

 

Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual adalah salah satu bentuk dari kekerasan seksual. Tindakannya merupakan segala bentuk yang mengarah ke organ seksual atau seksualitas baik secara non-fisik maupun fisik. Mayoritas korban dari pelecehan seksual adalah perempuan dan mereka tidak berani melapor lantaran takut akan akibatnya, berpikir sia-sia, atau bahkan merasa tidak akan didengar.

Pelecehan seksual terbagi dalam tiga ranah. Ranah pertama; personal atau pribadi, ranah kedua; publik atau komunitas, dan ranah ketiga; negara. Pembahasan ini akan lebih mengarah pada pelecehan seksual ranah publik atau komunitas yang bisa saja dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hubungan kerabat apapun atau tidak saling mengenal.

 

Pandangan dan Reaksi Masyarakat

Pada kenyataannya, masih banyak pelecehan seksual yang terjadi di sekitar kita baik kita sadari ataupun tidak. Beberapa orang sudah berani untuk bertindak, mereka tidak akan tinggal diam ketika melihat pelecehan seksual namun beberapa orang juga masih diam saja, pura-pura tidak tahu ketika terjadi pelecehan seksual di sekitarnya. Entah karena takut, ikut merasa terhibur dengan pemandangan itu, atau karena berpikir, ‘tidak aneh ia dilecehkan’ terutama dengan pandangan paling umum yang kita ketahui, yakni penampilan perempuan yang seringkali dijadikan alasan mengapa pelecehan seksual itu seolah dibenarkan.

 

Siapa yang Salah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut akan dipaparkan berbagai alasan sebenarnya seseorang melakukan pelecehan seksual dalam ranah publik atau komunitas.

 

  1. Persepsi Diri Pria

Seperti yang kita ketahui, mayoritas pria adalah seorang kepala keluarga. Hal ini menjadi salah satu alasan mendasar pria membuat pemahaman bahwa dirinya merupakan seorang pemimpin. Dengan demikian, pelecehan seksual menjadi salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pria sebagai bentuk perlindungan diri apabila perempuan mengambil posisi pemimpin.

 

  1. Otoritas dan Dominansi Kekuasaan

Akibat berpikir dan merasa memiliki kontrol di atas ‘bawahan’, seseorang seringkali menggunakan kekuasaan sebagai alasan untuk bertindak sesuka hati. Pelecehan seksual di sini juga menjadi salah satu bentuk tindakan semena-mena.

 

  1. Justifikasi oleh Kelompok

Justifikasi oleh kelompok adalah teori yang menjelaskan bagaimana seseorang mempertahankan apa yang menjadi kepercayaan mereka meski sebenarnya apa yang mereka percaya itu melanggar kepentingan mereka sendiri. Dalam hal ini, kasus pelecehan seksual dianggap pelaku sebagai suatu hal yang rasional karena biasa dilakukan oleh lingkungannya.

 

  1. Hasrat yang Tidak Tersalurkan

Beberapa orang tampaknya memang tidak dapat menahan hasrat mereka. Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang memiliki nafsu namun adalah hal yang tidak wajar apabila nafsu itu dilampiaskan kepada seseorang. Terutama yang menjadi sorotan di sini adalah ketika hasrat itu tidak dapat tertahankan lagi, sampai menuangkannya kepada seseorang yang tidak dikenal.

 

Dengan demikian, untuk memutuskan siapa yang benar dan salah dalam kasus pelecehan seksual tentu saja tidak bisa hanya terbatas pada pandangan jenis kelamin tertentu yang memegang pertanggungjawaban atas perbuatan yang ia lakukan. Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya bisa saja bersalah tergantung dari masing-masing individu. Hanya saja, yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana perempuan seringkali disalahkan tanpa alasan yang jelas dan langsung dihakimi.

 

Penulis: Theresa Bianca Swasono

BUAT APA SEKOLAH?

Gak kerasa bentar lagi SMA kelar. Selama ini, apa aja yang udah lu dapetin di SMA? Gua yakin segala sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi di dunia ini, selalu punya hikmah yang bisa diambil.

Sebelumnya, pastikan kalian punya waktu luang supaya lanjut bacanya enak. Mungkin apa yang akan gua bahas di sini lebih ke arah refleksi, toh cara interpretasi ada di tangan kalian. Refleksi ini memang awalnya ditujukan buat gua, tapi entah kenapa lagi bosen ‘cerita sendirian’.

Selama di SMA, apakah lu tipe orang yang hidup hanya untuk kesenangan belaka? Pemegang prinsip hedonisme, hidup cuman sekali makannya harus dibawa seneng melulu. Pencari kepuasan dan kenikmatan teratas dalam hidup, penghindar segala jenis penderitaan. Makannya kalau kerja kelompok sering absen entah kemana.

Ataukah lu salah satu dari murid express yang santai dan woles, gak pernah belajar buat ujian dan selalu mengandalkan sontekan? Murid yang tengah-tengah, kadang belajar— kadang nggak? Atau bagian dari selalu belajar sampai titik darah penghabisan, berusaha yang terbaik? Apakah lu temen yang ngerti berempati, gak berusaha sendirian?

Waktu itu kebaktian di sekolah, ada khotbah bagus dari pendeta. Sayangnya, kebanyakan malah ngacir ke alam mimpi. Mungkin lu salah satu dari murid yang ngacir, ya udah mau diapain? Udah lewat.

Langkah bagus ke wordpress gua karena gua bakalan nyeritain sebagian khotbah dia. Kurang lebih, dia khotbah tentang sekolah itu bukan cuman ajang kompetisi dapet nilai terbaik. Sebenernya, nggak sepenuhnya salah kalau sekolah dengan tujuan utama dapet nilai SEMPURNA dan ranking, tapi nggak sepenuhnya benar juga. Terus apa? Lolos KKM? Gak juga. Itu semua tujuan jangka pendek. Tanem dalam diri,

lu sekolah buat cari ilmu.

Bukan NILAI seratus, bukan juga KKM. Kalo motivasi lu segitu doang, ya gak aneh banyak murid express yang lahir.

“Ini semua tuh salah sistem sekolahnya. Udah pelajarannya susah banget, kalo gak dapet KKM kita gak naik kelas. Makannya, murid-murid yang ngandelin contekan munc—!!”

Eits, sebelum lu lanjut protes dan mulai berpikir ini bullshit, lanjut baca dulu. Semua sangkalan dalam hati taruh aja di kolom komentar, santai aja ‘kan ini negara demokrasi; bebas keluarin pendapat.

Salah satu kalimat Pak Pendeta itu,

“sekolah adalah tempat kamu dibentuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab,”

Gua dalem hati mikir kan ya, bener juga sebenernya. Kalo lu bertanggung jawab, otomatis lu belajar dong. Kalo lu belajar, ya pasti nilai lu gak jelek-jelek banget lah. Dan lu juga gak harus terpaksa nyontek.

Kalo pun lu remed, lu sebelumnya udah pernah baca dan mencoba ngerti, mungkin emang lebih butuh waktu aja atau bukan bidang lu makannya susah.

CUMAN SETIDAKNYA LU UDAH NYOBA.

Lain cerita kalo lu gak nyoba sama sekali, cuman nyalin. Baru seminggu, tuh memori udah keropos dari otak kali. Lu jadi butuh ekstra waktu belajar kalo deket-deket ujian macem USBN sama UNBK. Orang selama ini kerjanya nyalin doang. Mau nyalin juga nanti di USBN dan UNBK? Good luck deh.

Selain itu, sekolah seharusnya ngebentuk lu pada jadi pribadi yang kuat dan tahan banting, yang banyak belajar soal makna hidup, dimana hidup itu gak terus-terusan ada di atas. Pasti ada masanya lu belajar mati-matian dan dapet hasil sebanding, tapi ada juga masanya lu udah usaha, eh tetep aja nilainya kursi kebalik atau bahkan mungkin lebih parah—gak sesuai ekspektasi—.

Sikap lu dalam menghadapi tugas dan ulangan, akan kebawa sampai masa depan. Lu pada yang demen nyalin tugas, mandek dikit nggak mau usaha lebih, bakalan jadi salah satu dari sekian orang dengan kreativitas terbatas dan tingkat mandiri yang rendah dalam menyelesaikan masalah. Apa lu mau jadi orang yang apa-apa bergantung sama orang? Gak ada salahnya meminta pendapat atau bantuan, tapi lakukan itu ketika lu bener-bener buntu. Jangan dikit-dikit minta bagi jawaban, fotoin ini itu, kapan lu majunya kalau nggak nyoba dulu?

Oke, yang akan gua tulis selanjutnya adalah bagian dari unek-unek. Dan bisa dibilang ini pesan yang penting sebelum lu masuk dunia perkuliahan.

Tolong yang ngerasa suka NUMPANG NAMA doang kalo kerja kelompok, tolong, gua sangat meminta tolong untuk meninggalkan kebiasaan itu.

Masalahnya, di kuliah orang-orang yang gak lu kenal itu bisa jauh lebih rese. Kalo di SMA orang masih gak enakkan buat ngilangin nama, beberapa anak di kuliah gak akan ragu buat ngilangin nama lu. Lu mau alesan kayak gimana juga gak bakalan mempan. Inget ya kutil trenggiling, di kuliah lu yang ngurusin diri lu sendiri. Camkan tuh omongan guru yang koar-koar kalo lu gak bakalan dikejer-kejer dosen karena emang bener, yang ngejer dosen tuh elu (sebenernya ini ada bagian jeleknya juga sih, tapi kita bahas lain waktu).

              ∴

Akhirnya kita udah nyampe di bagian akhir.

Udah baca segini panjang masa gak ada konklusinya ya kan?

Sebenernya, di paragraf akhir ini gak ada pesan yang penting-penting banget selain supaya tetep SEMANGAT!!! Jangan putus asa sama USBN dan UNBK di depan mata, juga temen-temen yang ikut UTBK!!!

Mungkin lu pada mikir sekolah gak guna, gak ngatur masa depan lu, lu gak bakalan ketemu kebudayaan Mesopotamia, trigonometri, integral, hidrokarbon, dan lapisan tanah dalam kehidupan sehari-hari.

Inget,

gak selamanya pelajaran yang diambil adalah yang bener-bener PELAJARAN (ilmu pengetahuan) tapi pelajaran itu bisa juga berupa proses yang menjadikan lu manusia tahan banting, ngerti harus kerja keras buat ngedapetin sesuatu.

Karakter seperti apapun lu dibentuk pada masa sekolah, kiranya bisa membuat lu lebih baik dalam menentukan langkah ke depannya.

 

06/03/19

Sampai ketemu di lain waktu.

NOVEMBER 2017

Di hari ulang tahunmu,

Aku menyadari rasaku

Di hari ulang tahunmu,

Aku menyudahi keegoisanku

Di hari ulang tahunmu,

Aku berharap yang terbaik untukmu.

Selamanya.

  • Tangerang, 5 November 2017

 

Di dunia yang tandus ini,

Kerap kali aku bermimpi.

Berjalan bersamamu,

Melakukan banyak hal

Berdua saja

Namun,

Tentu saja itu sebatas mimpi.

  • Tangerang, 11 November 2017

 

Hidupku sedikit lebih berwarna

sebelum bertemu denganmu.

Dari kedua premis tersebut, ada kemungkinan pertama. Hidupku sekarang tidak berwarna. Kedua, hidupku jauh lebih berwarna.

  • Tangerang, 15 November 2017

 

 

Jangan Sampai

 

Pertama kalinya aku memanggil namamu adalah,

ketika kau telah tiada.

Ketika aku tak dapat lagi

melihatmu,

menyentuhmu,

dan menggapaimu.

Lalu yang tersisa hanyalah harap dan

            keinginan.

Terombang-ambing di atas laut penyesalan.

Hingga akhirnya tertimbun dalam dasar.

 

  • Tangerang, 19 November 2017

 

 

 

KLANDESTIN

 

Menyaru dengan bayang seraya menilik kau,

menyadari sang apatis yang lamat-lamat tampak.

Kini kumparan riang itu melebur, berluruhan.

Lantas rasaku hanyut dalam kerinduan yang menyeruak.

  • Tangerang, 25 November 2017

OKTOBER 2017

Ketika kau berbicara, mulutmu menumbuhkan duri

Sementara kata-katamu membuat lukaku tetap terbuka

Dan hari ini pun aku masih berpikir untuk bunuh diri

  • Jalan Jenderal Sudirman, 2 Oktober 2017

 

Rasa-rasanya aku dibentuk dengan semaunya,

Semena-mena dianggap paling mudah dimengerti,

Paling mudah diurus dan diberi segala sesuatu

Lalu ketika aku,

Memuntahkan segala yang ku rasa

Segala yang ku pikir

Dan segala yang ku simpan jauh dalam lubuk hati,

Mereka terkejut melihat isi muntahan itu

Tidak menyangka membesarkan seorang anak yang dari atas hingga ujungnya, tidak pernah mereka kenali.

  • Tangerang, 3 Oktober 2017

 

 

Pikiran itu menghancurkan.

Jadi, jangan terlalu banyak berpikir

Nanti kau akan tenggelam di dalamnya

Dan meyakini hal yang tidak pasti

  • 4 Oktober 2017

 

Hitunglah berapa kali ku terperosok.

Jatuh ke jurang, jauh ke dalam, sampai cahaya sedikit pun tak nampak.

Namun hitunglah pula berapa kali ku memutuskan untuk bangkit kembali.

Mencari jalan keluar, menatap lurus ke depan,

dengan penuh pengharapan.

  • Tangerang, 6 Oktober 2017

 

Sampai sekarang pun aku masih diam dalam harap,

mengawasi juga menunggu,

setidaknya sampai kau benar-benar melihatku.

  • Tangerang, 8 Oktober 2017

 

Kau tahu, apa yang ku lakukan tiap kali melihatmu?

Memastikan aku tidak sakit jantung.

  • Tangerang, 15 Oktober 2017

 

Hanya dengan melihatmu,

bibirku dapat tertarik ke atas hingga pegal rasanya.

Dan—

Hanya melihatmu saja, air mataku menitik

Perih yang bersarang dalam tubuh, menyangkut di tiap organ

Tanpa bergeming, tumpang tindih

Ini merupakan awal mula bungkas

  • Tangerang, 21 Oktober 2017

 

MUNGKIN
Selamanya aku hanya akan mengagumimu,

Tanpa mengubah rasa ini lebih lanjut

Mungkin bertahun-tahun aku hanya akan menatapmu,

Tanpa mendapat balas,-

  • Tangerang, 22 Oktober 2017

 

Dari sekian hal yang harus ku lakukan,

Memikirkanmu masih termasuk salah satu hal yang ku sukai

  • Tangerang, 25 Oktober 2017

 

Saya lupa caranya tersenyum hingga sekadar memikirkanmu.

  • Tangerang, 29 Oktober 2017